Archives: NKRI (baca: Indonesia) harga mati…!!

Semangat nasionalismeku serasa diaduk-aduk setelah membaca sebuah tulisan tentang sebuah renungan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia di sebuah mailing list almamaterku.
Dan juga beberapa hari yang lalu, seorang temanku menulis tentang kegiatan yang dia lakukan beberapa tahun terakhir dalam memperingati hari jadi bangsa ini, salah satu dari itu dia alami bersamaku.
Tambah berkecamuk jiwaku ketika menyadari bahwa tanggal 17 Agustus tahun ini jatuh pada bulan Ramadan, seperti cerita yang kudengar dan tidak pernah aku periksa kebenarannya, bahwa 66 tahun yang lalu juga, sang proklamator membacakan teks proklamasi dalam suasana yang sama, tentunya jika cerita yang aku ketahui itu benar.
Dan hal yang paling mengiris-iris hatiku adalah bahwa, ini untuk kedua kalinya aku merayakan ulang tahun ibu pertiwi dimana aku tidak berada dalam pelukannya.
Tahun 2010, tepat dua hari sebelum dirgahayu Republik Indonesia, aku melakukan perjalanan dinas ke negara super power. Aku mendapatkan kesan yang tidak begitu baik, diinterogasi oleh petugas imigrasi selama lebih kurang 3 jam. Barangkali akan menjadi hal yang biasa saja jika 4 orang teman satu timku diperlakukan sama denganku, tetapi ternyata mereka lolos pemeriksaan dalam hitungan kurang dari 5 menit. Kenapa aku harus melewati jalur yang panjang? sampai sekarang pun aku tak tahu. Dan itu adalah suatu awal dari perlakuan-perlakuan yang membuat tidak nyaman dari masyarakat awam Amerika, yang tidak mengenal diriku, yang tidak mengetahui apa tujuanku mendatangi negaranya. Tentunya lain halnya dari rekan kerjaku yang menjadi penjamu kami disana, dimanamereka memperlakukanku benar-benar sebagai seorang tamu. Satu hal yang sangat membuatku terharu dalam rangkaian perjalanan itu adalah ucapan petugas imigrasi Indonesia di bandara Soekarno-Hatta terminal 2, “Welcome home!”. Ya, aku pulang ke negaraku tercinta, dari perjalanan 10 hari yang terasa begitu lama.
Pada usia negara ini yang ke-66, aku mendamparkan diriku di sebuah negara yang terkenal dengan ginsengnya, Korea Selatan. Untuk kedua kalinya aku tidak bisa merasakan hura-hura tujuh belasan di tanah air tercinta. Hal yang berbeda aku alami dari setahun sebelumnya. Pada hari keberangkatan, justru aku dibuat tidak nyaman dengan saudara setanah air sendiri, yang meragukan bahwa keberangkatanku ke Korea adalah sebagai imigran gelap hanya dikarenakan aku tidak dapat memperlihatkan tiket kepulangan. Sempat terucap larangan untuk berangkat dari mulut mereka dengan segala tuduhan tak beralasan, dengan segala alasan tak masuk akal, dan dengan akal yang tak digunakan, yang terasa sangat menjatuhkan semangatku untuk berangkat berjuang sebagai pahlawan devisa. Dan ternyata, sambutan petugas imigrasi Korea di Incheon Airport sangat berbeda jauh dari yang kubayangkan. Mereka mengucapkan “welcome to Korea, enjoy your day”.
Banyak hal yang terangkai dalam pikiranku, angan-angan, pembandingan-pembandingan, sanjungan-sanjungan, sumpah serapah, dan sebagainya. Namun tetap ada satu garis lurus yang mampu menerobos rintangan-rintangan dan masukan-masukan yang muncul dari dalam diriku sendiri, dan tetap mampu meyakinkan diriku bahwa aku masih cinta Indonesia.
Perbandingan antara negara ini dengan negara lain yang menurut argumen itu lebih baik dari ibu pertiwi, hanyalah pandangan dari suatu sudut sebuah lingkaran, sedangkan lingkaran itu sendiri tidak memiliki sudut atau malah memiliki sudut yang tak terhingga. Aku tak bermaksud memihak, sebuah deskripsi menarik yang manyatakan bahwa indonesia jauh lebih baik dari negara lain pun hanyalah suatu ungkapan seekor katak dalam tempurung. Dari sepenggal pengalamanku di atas, yang bisa kalian bandingkan dengan pengalaman kalian sendiri, akan membuktikannya.
Lalu, kenapa harus ada patriotisme, nasionalisme?
Subjektifku, hanya sedikit banang merah antara baik atau buruknya sebuah negara, terbelakang, berkembang atau majunya sebuah bangsa, rendah atau tingginya harkat martabat suatu negeri dengan jiwa patriotisme dan nasionalisme.
Patriotisme ada bukan karena eksis nya suatu pembanding yang superior sehingga menghasilkan rasa cinta, seperti kita mencintai orang-orang disekitar kita bukan karena rasa belas kasihan. Nasionalisme muncul bukan pula karena adanya suatu bangsa yang tidak seberuntung bangsa yang kaya raya ini sehingga kita merasa lebih baik dan sedikit berbangga,  sama halnya dengan kita yang mencintai orang-orang disekitar kita, bukan karena orang-orang tersebut lebih baik daripada orang lain. Jadi bagiku cinta tanah air adalah suatu ungkapan terimakasih atas apa yang telah kita peroleh baik ataupun buruk, dan juga merupakan sikap balas budi atas apa yang telah diberikan ibu pertiwi kepada kita.
Satu hal yang aku yakin, bangsa Indonesia adalah bangsa yang paling fleksibel, sehingga fleksibilitasnya mampu membelokkan kita ke jalan yang penuh jurang kehancuran. Atau meyakinkan diri kita dalam pikiran, perkataan, dan sikap bahwa kelenturan yang kita miliki akan mampu membuat kita merasa benar-benar mencintai tanah air, dan berani berucap dengan lantang, Indonesia tanah airku, Indonesia tanah tumpah darahku, Indonesia…harga mati…!!!
Selamat ulang tahun, Republik Indonesia.
Lartz Officetel 631, Seoul, South Korea, 17-08-2011

Leave a comment

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑